Latar Belakang
Banjir di Kalimantan Barat akhir-akhir ini telah menjadi bencana keseharian yang melekat di kehidupan masyarakat. Tidak diperlukan hujan yang memiliki intensitas yang besar dalam tempo yang lama untuk menyebabkan suatu kawasan mengalami banjir. Indikasi ini sebenarnya dapat diterjemahkan sebagai semakin buruknya lingkungan yang dimiliki oleh Kalimantan Barat. Selain itu hal ini dapat pula berarti bahwa konsep-konsep pembangunan yang digalakkan ternyata tidak mampu mengeliminir dampak buruk terhadap lingkungan. Penanganan kasus banjir juga terlihat sangat parsial dan hanya bersifat reaksioner. Mulai dari penanganan pengungsi banjir sampai pada rencana pembangunan tanggul-tanggul. Penanganan model ini sesuai dengan peruntukkannya hanya berlaku atau berfungsi sesaat, tetapi tidak mengarah pada pokok masalah. Penanganan banjir haruslah dimulai dengan melihat sistem DAS yang ada, pengaturan tata guna lahan sampai pada pengaturan saluran-saluran pendukung. Dan penanganan ini harus merupakan penanganan yang integral dan melibatkan para pihak yang terlibat dan beraktivitas dalam suatu kawasan DAS tersebut. Keadaan seperti sekarang ini dapat dianggap wajar karena pembangunan yang dilakukan, sistem pembagian wilayah administratif dan wawasan atau bahkan pengetahuan pengambil kebijakan sangat minim mengenai perspektif DAS. Ini dapat dilihat dengan indikator keberhasilan pemerintah yang diartikan sebagai banyaknya investor yang masuk atau banyaknya PAD yang terkumpul.
Jika kita telusuri, maka dapat dilihat bahwa Kalimantan barat merupakan daerah yang lebih dari 50% arealnya merupakan rawa-rawa dan memiliki begitu banyak sungai mulai dari yang besar sampai yang kecil. Kesemua itu jika dibagi menjadi daerah aliran sungai (DAS) yang muaranya langsung ke laut, maka terdapat beberapa DAS yaitu: DAS Kapuas yang luasnya sekitar 70% luas Kalimantan Barat, Das Pawan yang luasnya mencakup keseluruhan luas kabupaten ketapang dan DAS Sambas yang arealnya meliputi kawasan kabupaten sambas serta beberapa DAS kecil yang muaranya langsung ke laut.
Kondisi tanah perbukitan, selain rawa-rawa yang sebagian besar merupakan podsolik merah kuning memiliki kecenderungan yang mudah menjadi bongkahan sehingga mengecilkan kemampuan air untuk berinfiltrasi tetapi kemudian sangat rawan untuk terjadinya erosi karena banyaknya air limpasan. Kondisi tanah seperti inilah yang kemungkinan besar memiliki kontribusi yang signifikan terhadap banjir yang melanda kalimantan barat. Disebut kemungkinan besar karena tentu saja harus ada penelitian yang komprehensif mengenai hal ini, tetapi kita akan lihat implikasinya terhadap banjir pada bagian analisa nanti.
Selain itu ada beberapa kondisi yang juga harus diperhatikan seperti iklim, jumlah curah hujan dan vegetasi yang berkaitan cukup erat terhadap banjir yang terjadi.
Analisa
Banjir adalah debit puncak atau secara teoritis-teknis dapat didefinisikan sebagai aliran sungai yang mengalir melampaui kapasitas tampung sungai, dan dengan demikian, aliran sungai tersebut akan melewati tebing sungai dan menggenangi daerah disekitarnya. Dari teori tersebut dapat kita tarik bahwa yang disebut dengan banjir haruslah merupakan air luapan dari sungai karena sungai tidak dapat mengalirkan atau mengeluarkannya.
Banjir dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, diantaranya:
- Curah Hujan yang terlampau besar dalam waktu yang lama,
- Outlet yang memiliki daya tampung kecil karena berbagai hal,
- Kondisi tanah yang berhubungan dengan kedalaman tanah, jenis, kelembaban dan lain-lain.
- Kondisi air tanah
- Curah hujan yang besar dalam jangka waktu yang lama, ini berhubungan dengan iklim. Untuk keadaan iklim yang stabil atau tidak ada perubahan yang ekstrim maka kita harus melihat harus melihat keadaan pendukung yang lain jika terjadi banjir. Untuk kondisi sekarang akibat dari perubahan iklim global keadaan-keadaan seputar iklim mungkin saja berpengaruh terhadap terjadinya banjir. Kita mengenal El Nino, anomali cuaca yang berimplikasi pada terjadinya kekeringan yang ekstrim dan sebaliknya La Nina yang menyebabkan kondisi basah yang juga ekstrim. Pada beberapa kondisi mungkin saja anomali cuaca ini menyebabkan terjadinya banjir jika tidak terjadi perubahan-perubahan yang signifikan terhadap outlet atau pendukung tata air lainnya.
- Outlet yang mengecil karena berbagai hal, kondisi yang satu ini bisa jadi menjadi sebab utama terjadinya banjir. Untuk menilik hal ini kita dapat melihat dari berberapa hal. Mengecilnya outlet atau keluaran atau biasanya diartikan sebagai sungai atau parit dapat dihubungkan dengan aktivitas disekitar outlet itu dan dalam skala besar dapat disebut sebagai manajemen daerah aliran sungai. Pada skala kecil misalnya pada daerah perkotaan atau urban kita dapat melihat bahwa pembangunan yang dilakukan tidak memiliki konsep yang jelas terhadap tata air. Tempat-tempat keluaran air dan daerah-daerah yang berfungsi sebagai daerah resapan diperkecil untuk kebutuhan pembangunan berbagai fasilitas. Infiltrasi tidak dapat terjadi karena air hujan yang jatuh tidak dapat meresap ke tanah karena tanah telah tertutup tutupan lain yang tidak dapat menyerap air seperti semen, atap bangunan dan lain-lain. Keadaan ini berimplikasi pada banyaknya air limpasan (air yang mengalir dipermukaan tanah) yang terjadi, air limpasan yang terjadi kemudian tidak tertampung oleh saluran-saluran pembuangan sehingga meluap dan menggenangi daerah sekitarnya. Tidak tertampungnya air limpasan ini diperparah dengan pengecilan outlet-outlet (parit-parit) yang ada demi “pembangunan”. Selain itu sistem tata air juga tidak diatur dengan baik sehingga pusat pengeluaran juga menjadi tidak jelas dan tidak terhubung dengan baik. Untuk tingkat yang lebih luas, kita dapat menganalisa mengecilnya daya tampung outlet atau sungai dengan melihat perubahan perubahan penggunaan lahan yang terdapat pada suatu daerah aliran sungai. Seperti yang telah disinggung diatas, perubahan penggunaan lahan dapat menjadi faktor penyebab mengecilnya daya tampungoutlet atau sungai. Kronologis perubahan dapat dimulai dari tutupan lahan yang berupa hutan. Pada derah berhutan hujan yang turun tidak langsung mengenai tanah, tetapi terlebih dahulu membentur dedaunan, pada kondisi ini air hujan yang jatuh tidak terlalu berpotensi terhadap lepasnya tanah dan terangkut oleh air atau yang biasa disebut sebagai erosi. Selain itu perakaran pohon-pohon di hutan Kalimantan Barat didominasi oleh akar tunjang yang jauh masuk ke dalam tanah. Kondisi ini berimplikasi pada kemampuan tanah untuk menyerap air karena pori-pori tanah yang terbentuk menjadi besar (gembur) dan berarti mampu menyerap air lebih banyak pula. Selain itu keadaan ini juga berarti pada memperlambat aliran air menuju ke outlet sehingga outlet dapat mengalirkan air lebih leluasa dan tidak meluap. Pada areal hutan serasah yang ada juga mempengaruhi waktu tempuh aliran air menuju outlet. Pada kegiatan konversi lahan hutan menjadi apapun bentuknya, untuk kondisi tanah yang didominasi oleh podsolik merah kuning (PMK) pembukaan hutan mengakibatkan tanah menjadi kering, kondisi tanah yang kering mengakibatkan tanah padat dan resisten terhadap air atau infiltrasi (penyerapan air oleh tanah) menjadi lambat. Jika hujan memiliki intensitas yang cukup besar maka sangat mudah terjadi aliran permukaan yang dapat mengikis permukaan tanah. Keadaan ini mungkin tidak terlalu berpengaruh terhadap pendangkalan sungai jika dilakukan dalam skala kecil. Tetapi jika dilakukan dalam skala besar seperti dalam pembukaan hutan untuk HPH secara mekanis dan perkebunan skala besar yang intensif maka volume tanah yang terangkut oleh aliran permukaan itu akan sangat mungkin berdampak pada pendangkalan sungai yang berfungsi sebagai pengeluaran. Aktivitas full mekanis yang dianut juga berdampak pada pemadatan tanah yang mendukung meningkatnya tingkat resistensi tanah terhadap air hujan. Aktivitas manusia lainnya yang mendukung terjadinya pengecilan daya tampung outlet adalah pembuangan sampah ke saluran pembuangan, aktivitas ini bisa menyebabkan saluran yang ada menjadi tersumbat yang selanjutnya menyebabkan banjir. Untuk daerah urban aktivitas ini tidak dapat dianggap remeh karena terbukti signifikan (pada beberapa daerah) sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir.
- Kondisi tanah yang berupa kedalaman tanah, jenis tanah, kelembaban tanah dan kondisi tanah lainnya sangat bervariasi menurut pembentuknya. Pada daerah Kalimantan Barat sebagian tanah berupa tanah gambut, aluvial dan podsolik merah kuning serta tanah berpasir. Pada derah gambut, vegetasi yang berada diatasnya sangat berpengaruh pada kemampuan menangkap air, pada jenis tanah ini biasanya kedalaman air tanah sangat tinggi sehingga kemampuan tanah untuk menangkap air relatif lebih sedikit. Untuk tanah Podsolik Merah Kuning (PMK), seperti yang telah dijelaskan di atas memiliki kedalamam yang cukup tetapi rentan akan erosi dan jika terpadatkan oleh aktivitas diatasnya menyebabkan tanah resisten terhadap air sehingga aliran permukaan menjadi besar. Tanah alluvial merupakan tanah yang cukup baik menyerap air, tetapi tanah ini juga biasanya terdapat pada derah yang relatif rendah sehingga muka air tanahnya tinggi.
- Kondisi air tanah merupakan salah satu faktor yang cukup berpengaruh karena berhubungan dengan banyaknya air yang mung diserap oleh tanah. Daerah Kalimantan Barat yang rendah dan memiliki kecenderungan daerah rawa berimplikasi pada muka air tanah yang relatif tinggi, ini berarti ruang yang tersedia untuk penyerapan air relatif lebih sedikit.
Parade Kasus Banjir Di Kalimantan Barat Tahun 2002-2003
- 260 rumah di Jangkang tenggelam. AP POST 6 Februari 2002. Akibat hujan yang turun sebulan secara terus menerus mengakibatkan banjir dan rumah-rumah pendudul serta lahan pertanian seperti ladang dan sawah yang sudah menguning terendam air seperti di wilayah Desa Balai Sebut, Desa Selampung dan Desa Semirau menenggelamkan kurang lebih 260 rumah penduduk, kantor kepala desa dan gedung pertemuan umum dengan ketinggian air di tempat terendah mencapai 3-4 meter. Dibentuk tim penanggulangan banjir yang bertugas untuk membentuk posko-posko pendataan penduduk dan mengevakuasi mereka ke tempat-tempat yang lebih aman.
- Antisipasi banjir, tiga bupati lakukan koordinasi, AP POST, 11 Februari 2002. Untuk mengantisipasi bencana banjir seperti yang sudah-sudah, bupati landak Drs. Cornelis, Bupati Sanggau, Drs. Michael Andjioe dan Bupati Bengkayang Drs. Jacobus Luna akan melakukan koordinasi. Langkah tersebut dilakukan karena secara geografis, ketiga wilayah itu memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. Setidaknya sinyalemen tersebut dilontarkan Bupati Landak Drs. Cornelis, ketika ditemui pontianak post di ruang kerjanya, Jumat (8/2). “ Persoalan ini sudah sampai ke pusat. Untuk mengantisipasi banjir serupa, kami bekerjasama dengan seluruh komponen bangsa. Secara teknis kita akan lihat apa penyebab banjir kali ini. Apakah DAS (daerah aliran sungai) Landak sudah tidak baik atau memang terjadi di daerah perhuluan. Bahkan air dari daerah perbatasan, baik kabupaten Sanggau maupun Bengkayang, jatuhnya ke Kabupaten Landak. Kalau hal ini benar, bisa jadi, penyebab banjir bukan di wilayah Landak melainkan di Kabupaten Sanggau atau bengkayang. Karena indah, kemungkinan besar, kita akan melakukan koordinasi,” papar Cornelis. Untuk mengetahui penyebab pasti banjir tersebut pihaknya juga akan bekerjasama dengan BPPT dalam melakukan penelitian.
- Diterjang banjir, 44 sekolah landak rusak parah, AP POST 12 Februari 2002. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Landak, Drs. Ignatius Yohanes mengatakan sebanyak 44 sekolah di kabupaten landak rusak diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu. Akibatnya kegiatan belajar mengajar sedikit mengalami kendala. Untuk menganggulangi dampak banjir tersebut untuk jangka pendek pihaknya mendesak bupati agar menyediakan buku paket, bangku murid, kursi guru, rapor, lantai darurat, kapur tulis, WC darurat, papan tulis darurat dan alat tulis murid sehingga kebutuhan kegiatan belajar mengajar dapat terpenuhi.
- Banjir di Pinyuh, karena saluran sumbat, AP POST 15 Desember 2002. Dampak dari pesatnya perkembangan pembangunan terutama pertokoan, perumahan dan gudang membuat areal yangada di kelurahan Sungai pinyuh dan sekitarnya mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Sementara dampak lain yang timbul adalah terjadinya penyempitan parit-parit yang ada sebagai pembuangan akhir ke sungai yang ada. Itulah salah satu gambaran kota pinyuh selama ini yang acap kali mengalami genangan banjir bila musim penghujan tiba.
- Air belum turun, waspadai banjir susulan, AP POST 27 Desember 2002. Banjir yang melanda Desa Semelagi Besar Kecamatan Selakau dan Semelagi Kecil Kecamatan Singkawang Utara masih berlangsung. Sedikitnya 278 buah rumah penduduk, sekolah, pasar dan fasilitas umum lainnya digenangi air. Dari pantauan ketinggian air di atas 1 meter. Aktivitas masyarakat petani lumpuh, sebab lahan pertanian mereka terendam air.
- Bangun Tanggul dan normalisai sungai-Atasi banjir Semelagi, AP POST 3 Januari 2003. Untuk menganggulangi banjir yang melanda Semelagi Kecil dan Kecamatan Singkawang Utara beberapa waktu yang lalu, pemerintah Kota Singkawang akan membangun tanggul dan normalisasi sungai. Pembangunan tanggul dan normalisasi sungai yang ada merupakan alternatif mencegah banjir susulan di masa yang akan datang, yang menenggelamkan puluhan rumah dan ratusan hektar areal pertanian. Tanggul yang dibangun, direncanakan kurang lebih 1,2 kilometer. Sementara normalisasi sungai yang ada sekitar 3 kilometer.
- Diguyur hujan sehari, pontianak banjir, AP POST 11 Januari 2003. Satu hari diguyur hujan, kota Pontianak dilanda banjir. Kondisi seperti ini cukup memprihatinkan dan menyusahkan masyarakat. Bukan hanya arus lalu lintas yang macet karena air sudah setinggi lutut, tetapi juga perekonomian mandeg dan wargapun sibuk menyelamatkan barang-barangdi rumah agar tidak terhanyut air. Drainase yang banyak tersumbat, disinyalir menjadi pemicu air menggenang dan mengakibatkan banjir hampir diseluruh ruas jalan.
- Air meluap, pedagang pasar beringin pindah, AP POST 11 Januari 2003. Aktivitas pasar tradisional Beringin Singkawang terhambat, disebabkan banjir yang menenggelamkan kawasan pasar yang padat pengunjung tersebut. Pindahnya pasar tradisional itu sejak hari kamis (9/1) malam dan tidak tahu kapan pedagang kembali berjualan ditempat semula. Untuk itu para pedagang mengambil inisiatif memindahkan barang dagangannya ketempat yang lebih tinggi.
- Banjir tahun 70-an akan terulang?, AP POST 11 Januari 2003. Derasnya hujan yang turun beberapa hari ini mengakibatkan banjir melanda kota Singkawang. Keadaan cuaca yang buruk menyebabkan warga mengalami kesulitan. Karena hampir seluruh jalan menuju ke tengah kota terendam oleh banjir. Banjir terbesar yang pernah dialami Singkawang terjadi pada tahun 1971 dan 1986 di mana ketinggian air mencapai 1-2 meter. Instansi yang berwenang diharapkan dalam jangka pendek dapat memprogrmkan penanggulangan banjir. Karena Kota Singkawang sungai, got-got dan parit sudah banyak yang dangkal dan tersumbat akibat pembangunan.
- Singkawang lumpuh, 639 jiwa diungsikan, AP POST 13 Januari 2003. Kota Singkawang “tenggelam”. Hampir sebagian besar ruas jalan dan pemukiman penduduk di kota itu terendam. Akibatnya tranportasi menuju ke rumah-rumah penduduk menjadi terputus. Aktivitas wargapun menjadi lumpuh. Genangan air rata-rata mencapai 1,5 meter. Warga kini mencemaskan jika terjadi hujan lebat dan tiupan angin. Karena hal itu akan memicu naiknya permukaan air. Banjir Kota Singkawang dan sekitarnya sudah mengarah pada ancaman warga, terutama mereka yang bermukim di wilayah pinggiran. Air yang sudah cukup tinggi menyebabkan sejumlah rumah rumah mulai terendam. Seperti Desa Mayasofa dan Bgaksahwa, kecamatan Singkawang Timur. Sekitar 639 warga diungsikan ke rumah-rumah penduduk dan rumah ibadah di wilayah yang lebih tinggi.
- Sungai Pinang meluap, puluhan rumah terendam banjir, AP POST 13 Januari 2003. Akibat hujan yang mengguyur selama dua hari dua malam, sungai pinang Desa Sungai Rambah Kecamatan Sambas meluap. Puluhan rumah terendam banjir. Bukan itu saja, jalan lintas provinsi juga terendam air sepanjang kurang lebih 150 meter. Selain di Desa Sungai Rambah, dibeberapa desa lainnya seperti Kecamatan Sejangkung, Subah, Tebas dan sekitarnya juga mengalami banjir. Akan tetapi yang paling parah, akibat dilanda banjir yaitu Desa Lubuk Legak Desa Lubuk Dagang Kecamatan Sambas. Karena dari sebelumnya, air sudah menggenang pemukiman warga. Bahkan menurut informasi terakhir, puluhan rumah milik warga di Desa Lubuk Legak ada yang sampai setengah meter tergenang banjir.
- Sebagian Kota Pontianak masih tergenang banjir, KOMPAS 13 Januari 2003. Kendati sudah mulai surut, sebagian wilayah Kota Pontianak, Kalimantan barat (Kalbar), sampai Minggu (12/1) kemarin masih tergenang banjir. Banjir yang mencapai 30 sentimeter ini masih menggenangi beberapa kawasan perumahan seperti di Kecamatan Pontianak Barat dan Pontianak Selatan. Warga Pontianak diminta tetap waspada karena dalam sepekan ini hujan besar diperkirakan masih akan terjadi. Kantor Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandar Udara Supadio, Pontianak, Minggu, melaporkan, kewaspadaan terhadap banjir, longsor dan angin kencang, tetap perlu karena dalam sepekan ini hujan besar dan angin kencang diperkirakan masih terus terjadi di wilayah Kalbar. “Hujan besar itu terjadi karena adanya kumpulan awan dari laut Cina Selatan dan akan jatuh di daerah Kalbar. Keadaan ini dipicu oleh siklon tropis, dimana tekanan udara di wilayah Asia sangat besar, sementara di Australia sangat rendah”, kata Sri Ningsih, petugas pengamat cuaca BMG Bandara Supadio, Pontianak. Dari pemantauan beberapa kawasan masih tergenang banjir. Keadaan ini membuat warga kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
- Ketinggian air mencapai empat meter. Bantuan minim, ribuan pengungsi terancam kelaparan. AP POST 15 Januari 2003. Banjir terus mengancam warga belahan utara Kalbar. Ketinggian air disejumlah pemukiman penduduk terus meningkat. Desa Semelagi Besar, Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas, misalnya. Ketinggian air mencapai empat meter. Ribuan warga terpaksa diungsikan. Mereka terancam kelaparan lantaran minimnya bantuan. Sebanyak 1.140 rumah tenggelam dan 4.118 jiwa warga diungsikan dari kawasan tersebut. 578,5 Ha sawah milik warga rusak total. Selain sawah, lahan perkebunan seperti jeruk yang luasnya 5,5 Ha juga terendam air. Sejumlah fasilitas umum juga ikut terendam seperti rumah ibadah, gedung sekolah, KUD, Laboratorium. Bahkan salah satu dari gedung SDN tersebut roboh akibat diguyur hujan.
- Banjir tenggelamkan tiga desa di Sungai Kunyit. Di Menjalin, banjir capai ketinggian tiga meter. AP POST 15 januari 2003. Saat musim penghujan ini, sedikitnya tiga buah desa di Kecamatan Sungai Kunyit tenggelam. Hingga Selasa (14/1) sudah 146 Kepala Keluarga diungsikan ke lokasi yang lebih aman. Diperkirakan, akibat banjir yang mencapai ketinggian 1,5 meter itu, rumah yang tenggelam dam jumlah penduduk yang dievakuasi terus bertambah. Ditempat terpisah, banjir di Kecamatan Menjalin dan Mempawah Hulu semakin menjadi-jadi. Setelah sehari sebelumnya, rumah warga tergenang. Selasa (14/1) kemarin ketinggian air sudah mencapai sekitar dua meter. Bahkan sejumlah kawasan, ketinggian air mencapai tiga meter. Kondisi tersebut telah menyebabkan ratusan rumah tergenang, aktivitas warga lumpuh total dan begitu juga dengan arus lalu lintas.
- Giliran Kabupaten Bengkayang di Kalimantan Barat dilanda banjir, KOMPAS 15 Januari 2003. Setelah Kota Singkawang nyaris lumpuh dilanda banjir pada Senin lalu, pada hari Selasa (14/1) dini hari sekitar pukul 01.00, ribuan warga di beberapa desa Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (Kalbar), juga mengalami penderitaan yang sama karena harus mengungsi ke tempat-tempat yang lebih tinggi. Hal ini terjadi menyusul rumah-rumah warga di daerah itu terendam banjir dengan ketinggian mencapai 1,5 meter. Beberapa desa yang terendam banjir itu antara lain di Desa Sungai Soga, Pangkalan, Persak, Rukmajaya (Sungai Ruk), Keran Sungai Raya dan Teluk.
- 10.324 hektar tanaman padi di Kalbar terendam, 21 Januari 2003. Bencana banjir di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) yang berlangsung selama sepekan terakhir menyebabkan 10.324 Ha dari 159.646 Ha tanaman padi terendam. Ribuan petani sangat terpukul karena sampai hari sabtu (18/1) sudah 2.381 Ha padi dinyatakan puso. Kerusakan tanaman padi dikhawatirkan akan bertambah jika genangan tidak segera surut.
Secara umum memang musibah banjir baru dianggap berarti jika berhubungan dengan kerugian dalam hitungan ekonomi atau dengan kata lain secara populer banjir didefinisikan sebagai aliran/genangan air yang menimbulkan kerugian ekonomi atau bahkan menyebabkan kehilangan nyawa. Dengan definisi yang cukup sederhana itu maka penanggulangan yang dilakukan juga relatif sederhana dalam arti selama tidak menimbulkan kerugian ekonomi yang terlalu tinggi atau lebih parah lagi untuk “menyenangkan hati” orang-orang yang terlibat secara ekonomi dan tidak menyebabkan korban jiwa sudah dianggap cukup untuk disebut penanggulangan banjir.
Ironis memang jika pandangan yang seharusnya kompleks dan mendasar itu coba disederhanakan tetapi tidak memecahkan masalah. Hitungan-hitungan kapital ternyata lebih berarti dari pada hitungan lain. konsep pembangunan pemerintah daerah saat ini cenderung untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah setinggi-tingginya (sayangnya) dengan mendatangkan investor. Hitungan-hitungan yang murni ekonomi itu kemudian berakibat pada rendahnya posisi tawar PEMDA terhadap investor dan yang paling pertama dikorbankan tentu saja Sumberdaya alam yang ada.
Rekomendasi
- Harus ada perencanaan wilayah yang integral dengan tolok pikir Daerah Aliran Sungai. Pemerintah daerah tidak bisa lagi melakukan pendekatan parsial kewilayahan dalam merencanakan pengembangan daerah. Koordinasi berdasarkan kesepakatan lintas wilayah kabupaten/kota beserta rakyatnya sangat diperlukan sehingga dampak pembangunan tidak lantas menyengsarakan rakyat tanpa pertanggungjawaban.
- Diperlukan awareness dan kampanye agar semua kalangan mengetahui problematika yang terjadi secara kompleks dan mendasar mengenai banjir secara khusus dan pengelolaan kawasan/wilayah secara umum.
- Penggalian dan pengembangan kearifan masyarakat lokal dalam pengelolaan wilayah yang telah terbukti ramah lingkungan dan selanjutnya menjadikannya sebagai model ciri khas pengembangan wilayah Kalimantan Barat.
Dari berbagai sumber
DIarsipkan di bawah: Lingkungan | yang berkaitan: Add new tag, banjir, Banjir di kalbar, banjir kalbar
