o ya…ok mas makasih infonya

Mobil MPV Akan Jadi Tren di Asia

Kapanlagi.com – Semakin tingginya harga minyak dunia yang telah menembus angka US$120 per barel saat ini akan membuat mobil kompak dan serba guna (MPV) yang hemat bahan bakar, murah suku cadang, dan perawatan menjadi tren di Asia.

Menurut konsultan dari Frost and Sullivan Asia Pasifik, Kavan Mukhtyar, di Jakarta, Selasa (13/5), mengatakan, perkembangan otomotif 2008 secara global akan terpengaruh oleh kenaikan harga minyak dunia yang sudah berada di atas US$120 per barel, dan bahkan diperkirakan dapat mencapai US$200 per barel pada lima tahun ke depan.

Dia mengatakan, industri otomotif akan semakin memperhitungkan biaya suku cadang, biaya harga jual kembali kendaraan, biaya bahan bakar, dan biaya kendaraannya sendiri. Oleh karena itu, sangat wajar jika mobil kompak dan MPV yang hemat bahan bakar menjadi pilihan produksi.

Lebih lanjut dia mengatakan, persaingan industri otomotif akan semakin ketat, produsen akan mencoba menciptakan kendaraan dengan biaya produksi tidak terlalu tinggi namun menambahkan fitur-fitur dan model yang menarik pada kendaraan.

“Dengan harga yang sama perusahaan akan bersaing memberikan fitur baru yang menarik, seperti fitur keselamatan, sistem navigasi, power window, power steering. Dan purna jual akan semakin diperbaiki,” ujar dia.

Namun menurut dia, penjualan mobil premium di Asia Tenggara juga tidak akan terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga minyak dunia. Tetapi yang jelas produsen mobil premium akan semakin sering meluncurkan produk baru yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan.

“Mereka juga akan mencoba menarik pasar dengan fitur-fitur yang menarik,” ujar dia.

Menurut perhitungan Frost and Sullivan, pada 2012 nanti penjualan otomotif di Indonesia dapat mencapai angka 680.000 unit per tahunnya. Dia memprediksi akan semakin besar penanaman modal asing, diikuti dengan kenaikan pendapatan per kapita, sehingga meningkatkan daya beli.

Sementara itu, dia mengatakan, penjualan otomotif di Negeri Jiran juga akan mengalami peningkatan dalam lima tahun ke depan, mengingat 40% populasi Malaysia saat ini masih berada di usia 20 tahun. Tidak heran jika Malaysia dalam lima tahun ke depan akan menjadi pasar yang cukup besar untuk otomotif.

“Malaysia lebih matang dari pada Indonesia dalam hal otomotif. Prediksinya pada 2012 nanti pertumbuhannya mencapai enam persen, sehingga mampu menjual 658.000 unit kendaraan,” katanya.

Namun, dia mengatakan, pertumbuhan otomotif di tahun 2008 Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan Malaysia. Menurut dia, yang menyelamatkan angka penjualan otomotif Malaysia adalah adanya tren program tukar tambah kendaraan oleh para produsen kendaraan. (kpl/rif)

http://www.kapanlagi.com

Seimbangkan Energi Melalui Terapi Lilin

TERNYATA lilin tidak hanya sebagai sumber penerangan tetapi juga bisa digunakan sebagai terapi karena unsur cahayanya. Cahaya lilin dapat membentuk pikiran yang sangat kuat saat seseorang terhubung dengannya. Warna cahayanya mendatangkan efek-efek penyembuhaan, sehingga pemilihan warna lilin sangat penting dalam proses ini. Saat lilin dinyalakan, energi cahaya dan warnaya memancar dan menyebar ke atmosfir, lalu diserap penderita. Paling tidak cahayanya berpengaruh pada orang di sekelilingnya.

Tiap warna pada setiap lilin memiliki arti yang digunakan untuk tujuan tertentu. Seperti warna merah yang menyimbolkan cinta dan kesehatan serta ambisi yang besar. Warna merah simbol nafsu dan potensi seksualserta seks merupakan ekpresi kekuatan hidup.

Warna-warna cahaya lilin memiliki frekwensi yang berbeda-beda. Saat digabungkan dengan kekuatan pikiran dan doa, energi cahayanya bisa menyembuhkan berbagai penyakit melalui penyelarasan pada saat energi (cakra-cakra).

Menurut DejaAllison, seorang praktisi terapi lilin dari AS, lilin yang digunakan untuk terapi, sebaiknya dibersihkan dulu dengan minyak seperti minyak zaitun atau parfum.

AP Pos

Ingin Hamil? konsumsi Es Krim

Wanita yang berusaha untuk hamil dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya konsepsi dalam rahimnya dengan mengkonsumsi es krim atau susu berlemak setiap hari. Sebuah penelitian di Harvard School of Public Health, Boston. Menunjukan bahwa wanita yang ingin hamil sebaiknya menghindari produk susu yang rendah lemak, karena hal itu jkustru berkaitan dengan non-ovulasi.

Reuter Health juga menjatakan bahwa jika seseorang menghendaki kehamilan, maka ada baiknya untuk mengkonsumsi satu ada dua porsi makanan dari produk susu berlemak, namun tanpa meningkatkan asupan kalori total dan mempertahankan asupan lemak jenuh yang rendah.

selama delapan tahun penelitian, penelitian dilakukan terhadap diet yang dilakukan oleh 18.555 wanita yang telah menikah, tidak memiliki riwayt infertilitas, dan sedang berusaha untuk hamil. Selama masa penelitian tersebut, sebanyak 2.165 wanita menjalani penelitian medis mengenai infertelitas dan 438 diantaranya diketahui mengalami infertilitas karena kurangnya ovulasi atau an-ovulasi Para peneliti menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi dua porsi atau lebih makanan dari susu rendah lemak per hari, seperti susu skim dan yogurt, terbukti dapat meningkatkan resiko infertilitas yang terkait dengan ovulasi sekitar 85% dibandingkan wanita yang mengkonsumsi kurang dari satu porsi makanan dari produk susu rendah lemak per minggu. Sedangka wanita yang mengkonsumsi sekurangny satu porsi makanan dari produk susu tinggi lemak setiap hari dapat menurunkan resiko infertilitas terkait ovulasi sebanyak 27%dibandingkan wanita yang mengkonsumsi makanan sejenis dalam jumlah lebih sedikit per minggunya. Hal sebaliknya juga berlaku pada makanan dari susu berlemak tinggi, khususnya susu murni.

Kini dianjurkan bagi wanita yang ingin hamil sebaiknya menganti konsumsi makanan dari susu rendah lemak, seperti susu skim dan yougurt dengan makanan dari susu berlemak tinggi seperti susu murni dan es krim, namun tetap mempertahankan asupan kalori yang normal dan membatasi asupan lemak jenuh untuk mempertahankan kesehatan tubuhnya. Dianjurkan juga setelah wanita berhasil hamil, ia sebaiknya kembali mengkonsumsi susu dari lemak rendah.

AP Pos

Merawan Otot agar selalu sehat

Nyeri atau kram otot adalah salah satu keluhan yang sering kali dialami oleh hampir setiap orang. nyeri pada oto baha karena terlalu lama bekerja di belakang komputer, atau nyeri otot kaki karena terlalu lama mengemudi. Walau tidak semua orang menganggap keluhan ini serius, setidaknya cara merawat kesehatan otot mestilah jadi perhatian kita.

Otot adalah jaringan yang berada di seluruh jaringan tubuh manusia. Bahkan ada organ-organ tertentu yang keseluruhannya tergolong sebagai otot, seperti jantung, atau usus. Sebagian besar organ yang terdiri dari otot itu bergerak secara otomayis, diluar kesadaran.

Orang awan mendefinisikan otot adalah otot kerangka, otot yang menempel pada kerangka tubuh yang berfungsi membentuk kekuatan dan menggerakan tubuh. Otot kerangka ini bergerak berdasarkan kesadaran, misalnya jika kita ingin menggengam, otot memerintahkan jari-jari itu. Otot keranghka inilah yang sering mengalami masalah, karena gerakan-gerakan yang tidak seimbang, berlebihan, sehingga otot mengejang setelah berkontraksidalam waktu lama tanpa berhenti.Agar konndisi otot selalu sehat dan tidak mudah mengalami kekejangan, otot perlu dirawat dengan langkah-langkah beriukut:

1. Memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Mengonsumsi setidaknya 6 gelas air sehari dapat menjaga kesehatan otot. Sebenarnya kebutuhan cairan setiap orang berbeda, tergantung pada pola makan, gender, tingkat aktivitas, suhu, kesehatan dan usia. Cairan dapat membantu otot melemas setelah berkontyraksi, dan melembabkan sel-sel otot, sehingga tidak mudah mengalami ketegangan.

2. Melakukan perengangan. Lakukan perengangan beberapa saat sebelum dan setelah melakukan gerakan tertentu yang menggunakan otot dalam jangka waktu panjang, sepert i akan jogging, bahkan tidur.

3. Meringankan nyeri otot. Gunakan krim khusus untuk otot yang mengandung methyl salicylat dan menthol, sehingga dengan rasa hangat yang ditimbulkannya, otot yang krama/kejang menjadi lebih rileks.

AP Pos

Korban Gempa Tiongkok Menembus Angka 12.000

DUJIANGYANG-Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Tiongkok sudah hampir 12.000 jiwa. Sedangkan ribuan orang belum diketahu nasibnya, sehari setelah gempa bumi berkekuatan 7,8 skala richter itu menghancurkan provinsi Sichuan Senin (12/5) siang.

Jumlah korbasn tewas itu menjadikan gempa Schuan sebagai bencana alam terdasyat di Tiongkok dalam tiga dekade terakhir. Media milik pemerintah Xinhua News Agency menyebutkan jumlah korban tewas 12.000 jiwa hanya di Provinsi Sichuan. Diperkirakan masih ada sekitar 18.645 orang yang terkubur reruntuhan bangunan di Mianyang, kota terdekat dengan pusat gempa. Media lokal The Sichuan Daily melaporkan dalam situsnya 26.000 orang terluka dan tertimbun reruntuhan bangunan di kota Miayang.

Jumlah korban tewas dan luka itu dikawatirkan bisa mencapai dua kali lipat karena beberapa daerah di pinggiran Sichuanyang juga hancur akibat gempa belum terjangkau oleh regu penolong.

Perdana Mentri ((PM) Wenjiabaoyang sudah berada dilokasi bencana sejak Senin malam terus berkeliling memantau kerja tim penyelamatkorban. orang kuat nomor dua di Tiongkok itu selalu membungkuk tiga kali (sebagai tanda berduka) di depan mayat yang telah dikeluarkan dari reruntuhan.

Bersama PM Wen para petugas penolong dan tentara yang dikerahkan pemerintah bekerja siang dan malam mengangkat mayat-mayat dari sekolah, pabrik, dan rumah yang hancur.

“Tidak satu menin pun disia-siakan,” kata Wen seperti terlihat pada tayangan televisi. “satu menit, satu detik, bisa berarti satu nyawa anak-anak,” tegasnya. Hujan yang menguyur sebagian Sichuan kemarin membuat gerak regu penolong untuk menyelamatkan korban yang masih di reruntuhan agak terlambat.

sementara itu, Presiden Tiongkok Hu Jintao menegaskan, persoalan gempa akan menjadi prioritas pemerintahnya. Berbicara pada rapat politbiro, dia mengatakan telah memerintahkan pengerahan segala upaya untuk menolong yang terluka.

menyusul komitmen petinggi pemerintah, Wakil Menteri Urusan Sipil LuoPingfei mengatakan, pemerintah telahj mengalokasikan dana 360 juta yuan (Rp 479,964 miliar) untuk proses evakuasi korban diluar program recovery kota-kota di wilayah Sinchuan. Segera setelah gempa terjadi, luo Pingfei menyebutkan 60.600 tenda langsung dikirimkan ke lokasi bencana.

Dari data pemerintah, korban tewas sudah mencapai 11.921 jiwa.

Kawasan terparah, dari laporan yang diterima oleh pemerintah, adalah Wenchuan wilayah perbukitan dengan 112.000 penduduk yang berjarak 100 km dari Chengdu, ibu kota Sichuan. Sekitar 900 orang terkubur dibangunan tiga lantai yang hancur di Dujiangyan, diantara 420 siswa yang bersekolah, yang selamat tidak sampai 100 anak-anak tulis Xinhua (AP/CNN/Rtr/Kim)

Nomor 0666, Warning…..????

Sudah dua hari ini saya mendapat sms dari teman untuk berhati-hati dengan nomor telpon yang 0666. yang katanya untuk tidak mengangkat handpone yang bernomor 0666!! padahal kawan saya ada yang nomor hp nya 0666 dan terbukti waktu saya angkat tidak terjadi apa-apa….

harapan saya kita jangan terbawa isu yang belum tentu faktanya. ia kita telusuri dululah kebenaran berita ini, baru kita mengambil sikap.

PEMBELAJARAN FILOSOFIS TENTANG LINGKUNGAN HIDUP

By: Herkulanus Lamli (Aktivis PPSHK Pancur Kasih)

Pengantar
Baru sejak kurang lebih 20 tahun umat manusia mulai menyadari bahwa ia berada dalam proses penghancuran alam, dan bahwa alam itu adalah lingkungan hidup manusia, bahkan satu-satunya lingkungan hidupnya. Sehingga apabila lingkungan ini sudah rusak, manusia telah menghancurkan lingkungan daripadanya ia harus hidup sendiri.
Kita mulai menjadi sadar betapa buruknya perlakuan kita terhadap alam: hutan-hutan primer ditebang pohonya, atmosfer dirusak, udara dan air diracuni, lingkaran kehidupan mikro yang hakiki diputuskan. Akibatnya semakin kita rasakan. Benjana banjir dan tanah longsor semakin gawat, misalnya di senjang aliran sungai Sekayam dan Kapuas di Kalimantan Barat. Di Aceh dan Pulau Nias hampir 75 % dari penduduknya tewas, kehilangan harta benda tak ternilai dengan rupiah karena Tsunami dan Gempa Bumi. Akibat penambang emas tak terkedali di Mandor, Monterado, dan daerah Belitang pohon mati tanah menjadi padang pasir. Kemampuan alam untuk membersihkan diri semakin melemah. Penggunaan pestisida secara besar-besaran mengakibatkan merajalelanya hama seperti wereng coklat dan belalang di Ketapang yang kebal terhadap obat pemberantasan. Penyakit malaria maju di seluruh dunia tropis. Setiap tahun jutaan hutan tropis—lumbung warisan genetic bumi kita—hilang. Penggunaan pupuk kimia berlebihan meracuni air tanah.
Kerusakan yang mulai gawat sekarang diketahui berlangsung di sepanjang jalan lintas utara dan taman nasional Bentung Kerihun-Kapuas Hulu di mana danau-danau dan sungai-sungai besar terancam radioaktif dan di beberapa daerah industri Kelapa Sawit di Kalimantan Barat angka kematian anak adalah 10 kali lebih buruk daripada di Eropah barat.
Perusakan itu bukan sekedar nafsu manusia modern yang hanya mau memanfaatkan alam untuk meningkatkan konsumsinya, melainkan, anehnya, juga berdasarkan sebuah legitimasi teologis. Berabad-abad lamanya manusia Barat mengekploitasi alam berdasarkan anggapan bahwa ia telah dibenarkan dalam perintah yang diberikan Tuhan kepada manusia yang diciptakanNya: “Beranakcuculah dan bertamabah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1, 28)
Perintah Sang Pencipta itu ternyata oleh manusia modern diartikan sebagai cek blangko untuk menjadikan diri penguasa mutlak atas seluruh alam. Kekuasaan itu lantas diartikan sebagai wewenang untuk memanfaatkan alam secara habis-habisan demi kebutuhan dan keinginan apa saja, tanpa perhatian pada keutuhan alam sendiri. Perintah Pencipta dijadikan dasar sebuah ideologi yang mensahkan manusia menjadikan seluruh dunia menjadi alat dan tambang bagi perealisasian segala apa yang dapat dibayangkannya.
Waktu sudah sangat mendesak untuk merenungkan kembali apa yang sebenarnya dititipkan Allah pada manusia ciptaanNya itu. Sudah waktunya kita melepaskan pendekatan yang semata-mata mau menguasai dan mengembangkan sebuah etika tanggung jawab terhadap keutuhan seluruh ciptaan.
Dalam tulisan ini pertama saya menguraikan pola pendekatan yang mana yang membawa umat manusia ke dalam situasi gawat kita sekarang, kedua saya menggariskan unsur-unsur sebuah etika tanggung jawab keutuhan ciptaan baru.

1. Pola Pendekatan yang Merusak
Di sini tidak mungkin saya membahas secara kongkret cara-cara perlakuan alam yang perlu diubah, melainkan yang dicari adalah kesalahan dasar dalam sikap manusia. Di mana akar kesalahan dalam pendekatan manusia terhadap alam sehingga ia semakin merusaknya?

a. Sikap Teknokratis
Pola pendekatan manusia modern terhadap alam dapat disebut “teknokratis” (dari kata Yunani “tekne” , ketrampilan, dan “krattein” , menguasai). Artinya, manusia memandang alam sebagai objek penguasaan. Alam menjadi sekadar sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia. Alam dianggap tambang kekayaan dan energi yang perlu diekploitasi atau dimanfaatkan. Bahwa alam bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karenanya perlu dipelihara-dilestarikan, tidak termasuk di dalam wawasan pikiran teknokratis. Sikap teknokratis dapat diringkas sebagai sikap “merampas dan membuang” : alam dibongkar untuk mengambil apa saja yang diperlukan, dan apa yang tidak diperlukan, termasuk produk-produk samping pekerjaan manusia, begitu saja dibuang.

b. Sikap manusia terhadap Lingkungan
Sikap dasar itu kelihatan dalam cara manusia bersikap terhadap lingkungannya. Sikap itu merupakan ciri khas seluruh perekonomian modern maupun sikap manusia dalam hidup sehari-hari.
Baik ekonomi kapitalisme maupun sosialisme secara hakiki merusak lingkungan. Dalam ekonomi kapitalistik tujuan produksi adalah laba perusahaan. Laba menjamin bahwa sebuah perusahaan dapat mempertahankan diri dalam alam saingan bebas atau pasar bebas.
Untuk meningkatkan laba, biaya produksi perlu ditekan serendah mungkin (untuk membersihkan lahan dibakar}. Oleh karena itu ekonomi modern cenderung untuk mengekploitasi kekayaan alam dengan semurah mungkin: dengan sekadar mengambil, dengan menggali dan membongkar, apa yang diperlukan, tanpa memikirkan akibat bagi alam sendiri dan tanpa usaha untuk memulihkan ke keadaan semula. Begitu juga asap, pelbagai substansi kimiawi yang beracun dan segala bentuk sampah lain dibuang dengan semurah mungkin: dibuang ke tempat pembuangan sampah, di pinggir jalan, dialirkan ke dalam air sungai, dihembuskan melalui cerobong-cerobong ke dalam atmosfer. Mengolah sampah sampai racunnya hilang dan sampai dapat dipergunakan lagi hanya menambah biaya. Jadi kalau proses produksi dibiarkan berjalan menurut mekanisme ekonominya sendiri, alam dan lingkungan hidup manusia mesti semakin rusak.
Dalam kenyataan ekonomi-ekonomi sosialis-komunis menyebabkan kerusakan lingkungan hidup manusia yang jauh lebih parah lagi. Apa sebabnya? Ekonomi-ekonomi kapitalistik sekurang-kurangnya mempunyai satu keunggulan terhadap ekonomi-ekonomi sosialis. Kebanyakan kerja dalam alam demokrasi dan oleh karena itu mau tak mau harus memperhatikan tuntutan masyarakat sekitarnya. Kapitalisme dalam sejarah muncul sebagai lebih responsif terhadap berbagai tekanan. Maka mereka tidak dapat begitu saja mengotori dan merusak lingkungan. Sedangkan sosialisme selalu direalisasikan di bawah rezim diktatur (mis. Masa rezim Orde Baru-Soeharto) yang tidak perduli pada pendapat masyarakat sekitarnya. Masyarakat tidak berani mengajukan protes. Oleh karena itu industrialisasi dipaksakan tanpa perhatian pada kesehatan masayarakat. Akibat-akibatnya baru diketahui sekarang. Untuk membersihkan kembali air tanah, danau-danau, sungai-sungai, serta untuk membangun kembali hutan-hutan yang telah hancur akan amat mahal. Hal mana dapat menjadi peringatan bahwa dosa melawan lingkungan pernah akan ditagih oleh alam dan kemudian akan jauh lebih mahal dibayar kembali daripada kalau sejak semula alam diperlakukan dengan arif-bijaksana.
Kelihatanlah bahwa alasan paling dalam di belakang pola ekonomi modern yang merusak, baik yang kapitalis maupun yang sosialis terdapat sebuah ideologi, yaitu ideologi pertumbuhan. Nilai tertinggi ekonomi modern segala bentuk adalah agar produksi terus bertambah. Ekonomi modern tidak memiliki konsep system produksi dalam perimbangan. Ideologi pertumbuhan itulah yang membuat manusia terus mau mencari lebih banyak, lebih juah, yang membuatnya tidak pernah puas (mis. sudah jadi anggota CU dan KPD terus mengembangkan MLM/Samijaya,mondragon, dan sudah sukses jadi aktivis LSM masih mau menjadi Kepala daerah dan seterusnya.) dengan keadaan yang telah tercapai sehingga alam semakin harus dibongkar dan diobrak-abrik untuk menghasilkan lebih banyak kekayaan bagi segelintir manusia.
Namun kita jangan hanya mempersalahkan perusahaan-perusahaan besar dan kecil. Masyarakat kita dalam kehidupan sehari-hari tidak lebih baik sikapnya terhadap lingkungan. Dengan seenaknya pohon ditebang, bunga di alam dipotong, sampah dibuang ke sungai, kotoran ditinggalkan berserakan di tempat-tempat umum.

2. Dampak Pendekatan Itu
a. Terhadap Kelestarian Biosfer
Ciri khas kehidupan di bumi ialah keberlangsungannya dalam pelbagai lapisan; di dalam laut: di dekat pantai, di tengah laut, di dekat permukaan atau di kedalamannya, di dalam sungai, danau dan kolam, di daratan: di daerah dingin, panas, kering, basah, di dataran rendah, di pegunungan, dan juga di udara. Keseluruhan lapisan-lapisan kehidupan itu disebut biosfer (dari kata Yunani “bios” , hidup, dan “sphera”, bola). Ciri khas biosfer ialah bahwa terdiri dari ekositem-ekosistem yang tak terhitung banyaknya. Dengan ekosistem (dari kata Yunani “oikos” , rumah, dan “systema” , keseluruhan) dimaksud bahwa organisme-organisme sebuah lingkungan, misalnya sebuah rawa, merupakan sebuah sistem , artinya saling mempengaruhi dan saling tergantung. Seluruh biosfer dapat dianggap sebagai satu ekosistem bumi. Jadi semua unsur dalam biosfer saling tergantung dan saling mempengaruhi. Ciri khas setiap system adalah keseimbangannya. Begitu pula alam sebagai ekosistem hanya dapat lestari apabila menjaga keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang merusak dan yang membaharui, antara kematian dan munculnya organisme baru.
Keseimbangan itulah yang diganggu oleh campur tangan kasar manusia. Begitu misalnya penggunaan berlebihan pestisida untuk memberantas hama padi telah mematikan juga serangga dan burung yang merupakan musuh alamiah hama dan yang dulu tidak membiarkan hama itu sampai merajalela. Dengan demikian hama justru merajalela. Lebih dari itu, dengan merajalelanya itu, kemungkinan hama untuk mengalami mutasi (perubahan dalam struktur gen) bertambah dan lahirlah cabang hama yang kebal terhadap obat pemberantas hama. Itu misalnya masalah wereng cokelat dan belalang yang tiga puluh tahun lalu belum merupakan masalah.
Suatu kerusakan pada biosfer tak pernah terbatas hanya pada tempat kerusakan itu. Kerusakan itu mengganggu keseimbangan ekosistem setempat, dank arena ekosistem setempat merupakan unsusr dalam ekosistem dunia, kerusakan itu memperlemah daya tahan alam seluruhnya. Kekuatan alam sebagai ekosistem yang paling penting bagi manusia ialah kemampuannya untuk membersihkan diri dan untuk memilihkan kembali bagian yang rusak. Begitu misalnya hutan yang ditebang lama-kelamaan akan tumbuh kembali. Air yang kotor dibersihkan kembali oleh alam. Tetapi apabila pengotoran, perusakan, dan peracunan melampaui batas tertentu (sering disebut “ambang”), kekuatan alam itu ambruk dan alam mati. Sebuah danau misalnya tidak lagi menunjang kehidupan. Daerah subur menjadi padang pasir. Ekonomi perairan hancur. Manusia baru mulai menyadari akibat cara ia memanfaatkan alam sesudah semakin banyak ekosistem local ambruk-hancur. Baru dengan demikian manusia juga mulai sdar bahwa ia sendiri merupakan bagian dari ekosistem. Bahwa apabila ia merusak lingkungannya, ia merusak ekosistem daripadanya ia sendiri tergantung.

b.Terhadap Generasi-generasi yang Akan Datang
Yang hampir belum masuk ke dalam hitungan, apalagi perencanaan manusia dewasa ini, adalah dampak ulahnya bagi generasi-generasi yang akan datang. Setiap kerusakan dan peracunan wilayah yang tidak dapat dipulihkan kembali, berarti menggerogoti dasar-dasar alamiah kehidupan generasi-generasi yang akan datang.

3. Ciri-ciri Etika Lingkungan Hidup yang Baru

Kalau manusia tidak mau merusak dasar-dasar eksistensinya sendiri, ia harus berubah. Tetapi perubahan itu tidak cukup kalau didasari pada pertimbangan pragmatis. Perlu dikembangkan suatu sikap dan kesadaran baru manusia tentang alam sebagai lingkungan hidupnya, tentang hubungannya dengan lingkungan hidup, tentang tanggung jawabnya terhadap kelestarian lingkungan hidup itu.

a. Sikap dasar
Etika lingkungan hidup modern tidak berkembang dikalangan orang beragama. Kenyataan itu harus diakui dengan jujur, meskipun barangkali pahit. Beberapa ucapan verbal bahwa “dalam agama sudah selalu alam dianggap sebagai tanggung jawab manusia” dan sebagainya tidak meyakinkan selama tidak disertai oleh keprihatinan yang tegas. Sayang, dan barangkali khas bagi bahaya kepicikan dan egoisme yang mengancam agama-agama di zaman modern, orang-orang beragama langsung ribut kalau salah satu unsur ajaran mereka disinggung, akan tetapi terhadap perusakan lingkungan baru beberapa individu beragama yang sungguh-sungguh terlibat.
Saya menganggap sangat perlu agar orang-orang beragama tidak lari dari tanggung jawab khusus mereka terhadap lingkungan hidup. Kiranya keributan mereka tetang segala hal ajaran tidak akan membebaskan mereka dari teguran Pengutus mereka kalau mereka membiarkan alam ciptaan Allah rusak.
Kiranya kita harus membaca kembali perintah yang diberikan oleh sang Pencipta kepada manusia. Perintah “Penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi!” tidak dimengerti tepat kalau dianggap menjadi izin bagi manusia untuk seenaknya merampas kekayaan serta membongkarnya demi pemuasan segala keinginannya. Dunia diserahkan kepada manusia bukan untuk diperalat dan akhirnya dirusak, melainkan sebagai penyerahan tanggung jawab: Tuhan Sang Pencipta membembani manusia dengan tanggung jawab atas keutuhan seluruh ciptaanNya. Kekuasaan yang dimaksud bukanlah kekuasaan dalam arti main tuan besar, melainkan dalam arti seorang penguasa bijaksana , menjaga, memelihara, memperhatikan baik apa yang diserahkan kepadanya.
Jadi dunia dengan segala isinya diserahkan kepada kita agar kita menjaganya baik-baik. Agar kita memperlakukannya sebagai rumah yang dititipkan kepada kita untk dipelihara seakan-akan bagi Tuhan sendiri. Tuhan menciptakan dunia dengan indah sekali. Ia mengharapkan agar kita ikut dalam karya penciptaanNya dan bahkan memperindahkannya, di mana kita sendiri termasuk di dalamnya. Akan tetapi harus diakui bahwa pandangan itu masih belum banyak masuk ke dalam kalangan kaum agamawan. Maka sangat perlu dikembangkan.
Atas dasar kesadaran penugasan Allah Bapa itu orang beragama harus membangun sikap bertanggung jawab terhadap keutuhan lingkungan hidup.
Yang diperlukan tidak kurang dari suatu perubahan fundamental dalam sikap manusia modern terhadap lingkungan hidup dan alam. Sikap dasar yang dituntut itu dapat dirumus begini: “Menguasai Secara Berpartisipasi, Menggunakan Sambil memelihara”. Manusia harus tetap menguasai alam. Ia tetap harus menggunakannya. Yang perlu berubah adalah cara penguasaan, cara pemanfaatan. Menguasai tidak sebagai pihak di luar dan di atas alam, melainkan sebagai bagian alam, sebagai partisipan dalam ekosistem bumi. Jadi menguasai sambil menghargai, mencintai, mendukung dan mengembangkan. Memanfaatkan, tetapi tidak sebagaimana kita menghabiskan isi sebuah tambang atau penduduk pantai akan memanfaatkan bangkai kapal yang kandas dan ditinggalkan orang. Melaikan seperti kita memanfaatka seekor sapi perah: dengan sekaligus memeliharanya.
Kita harus membatinkan sebagai kewajiban bahwa kita dalam setiap pertemuan dengan alam, meninggalkannya dala

b. Dua Acuan Tanggung Jawab

Inti etika lingkungan hidup yang baru adalah sikap tanggung jawab terhadapnya. Paralel dengan dua arah dampak perusak sikap teknokratis, sikap tanggung jawab pun mempunyai dua acuan.

(1) Keutuhan Biosfer
Pertama keutuhan biosfer. Campur tangan kita khususnya aktivis PPSHK dengan alam yang memang berjalan terus selalu kita jalankan dalam tanggung jawab kelestarian semua proses kehidupan yang sedang berlangsung. Terutama kita aktivis PPSHK jadi peka terhadap keseimbangan suatu ekosistem. Campur tangan kita bernafaskan tanggung jawab terhadap kelangsungan semua proses kehidupan: bagaimanapun juga, kita aktivis PPSHK tidak mengurangi kadar kehidupan lingkungan.

(2) Generasi-generasi yang Akan Datang
Sudah waktunya kita menyadari tanggung jawab kita terhadap generasi-generasi yang akan datang. Setiap orang tua yang baik berusaha untuk menjaga rumah, perabot dan tanah yang dimiliki swarisan bagi anak-cucu mereka. Sikap ini harus menjadi sikap umum manusia terhadap generasi-generasi yang akan datang. Kita dibebani kewajiban berat untuk mewariskan ekosistem bumi itu dalam keadaan baik dan utuh kepada anak-cucu-buyut-cicit kita. Umat manusia untuk waktu yang dapat kita perhitungkan sekarang akan harus hidup di planet bumi ini. Maka kita berkewajiban untuk meninggalkannya dalam keadaan baik. Menurut rumusan Eibach dan Jonas: “Dalam segala usaha bertindaklah sedemikian rupa sehingga akibat-akibat tindakanmu tidak dapat merusak, bahkan tidak dapat membahayakan atau mengurangi kemungkinan-kemungkinan kehiaupan manusia dalam lingkungannya, baik mereka yang hidup pada masa sekarang, maupun generasi-generasi yang akan datang”.(Reiter hal. 571).

c. Unsur-unsur Etika Lingkungan Baru
Berikut ini saya ingin merumuskan tujuh tuntutan lebih kongkret yang termuat dalam sikap tanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Sebagai sebuah pembelajaran bersama.

1) Kita harus belajar untuk menghormati alam. Alam kita lihat tidak semata-mata sebagai sesuatu yang berguna bagi manusia, melainkan yang mempunyai nilainya sendiri. Kalau terpaksa kita mencampuri proses-proses alam, maka hanya seperlunya dan dengan tetap menjaga keutuhannya. Lebih dari itu, semua makhluk hidup harus kita pandang sebagai saudara. Kita bertangung jawab atas keselamatan mereka. Kita tidak merusak tanpa alas an yang gawat. Hidup dan kesejahteraan makhluk-makhluk hidup semua harus menjadi keprihatinan kita. Perlu sebuah solidaritas horizontal antara semua makhluk hidup.
2) Kita harus membatinkan suatu perasaan akan tanggung jawab khusus terhadap lingkungan local kita sendiri: agar lingkungan kita bersih, sehat, alamiah sejauh itu mungkin. Kita tidak pernah membuang sampah seenaknya, kita meninggalkan setiap tempat dalam keadaan bersih, tanpa meninggalkan pelbagai macam kotoran.
3) Kita harus merasa bertanggung jawab terhadap kelestarian biosfer. Untuk itu diperlukan sikap peka terhadap kehidupan. Sekaligus perlu kita kembangkan kesadaran mendalam dan permanent, bahwa kita sendiri termasuk biosfer, merupaka bagian dari ekosistem, bahwa ekosistem adalah suatu yang halus keseimbangannya, yang tidak boleh kita ganggu dengan campur tangan dan perencanaan kasar. Kesadaran bahwa sebagai partisipan dalam biosfer kita tidak akan melakukan apa pun yang mengancam kesehatan dan kelestariannya.
4) Solidaritas dengan generasi-generasi yang akan datang harus menjadi acuan tetap dalam komunikasi kita dengan lingkungan hidup. Seperti kakek dan nenek tidak mungkin mengambil tindakan terhadap milik yang mereka kuasai tanpa memperhatikan nasib anak dan cucu mereka, begitu tanggung jawab kita untuk meninggalkan ekosistem bumi kita ini secara utuh dan lestari kepada generasi-generasi yang akan datang harus menjadi kesadaran yang tetap pada manusia modern.
5) Etika lingkungan hidup baru memuat larangan keras untuk merusak, mengotori, dan meracuni. Terhadap alam atau sebaiannya kita tidak menganbil sikap yang merusak, menghabiskan, mengotori, menyia-nyiakan, melumpuhkan, membuang. Bukan hanya tidak di hutan dan di taman, melainkan juga di rumah, di sekitar rumah, di jalan, di tempat kerja dan rekreasi. Kita tidak memuang kertas, plastic, puntung rokok sebarangan. Seboyan etika baru ialah: “membangun, tetapi tidak dengan merusak. Suatu rencana yang hanya dapat terlaksana dengan menimbulkan kerusakan suatu ekosistem yang tak terpulihkan diurungkan.
6) Perlu kita kembangkan sebuah prinsip proporsionalitas: Kiranya jelas bahwa setiap kegiatan pembangunan dalam jangkauan tertentu mengubah lingkungan alamiah dan dengan demikian merusaknya. Tak ada proses pekerjaan yang tidak menghasilkan sampah dan pengotoran. Maka yang perlu adalah menjaga proporsionalitas. Hasil atau manfaat mana yang membenarkan sebuah perusakan atau pengotoran. Apakah sasran sebuah usaha pembangunan cukup penting untuk membenarkan perusakan yang disebabkannya (misalnya pembangunan fasilitas rekreatif di batas hutan suaka/lindung).
7) Prinsip pembebanan biaya pada penyebab: Tidaklah wajar kalau masing-masing orang, komunitas, kampong,dan kota, begitu pula masing-masing perusahaan dan kegiatan lain dibiarkan memproduksi kotoran dan merusak lingkungan, kemudian masyarakat terpaksa mengeluarkan biaya pemulihan atau pengutuhan kembali. Biaya pemberesan kembali lingkungan hidup selalu harus dibebankan pada penyebab sebuah perusakan. Dengan demikian hasil produksi masing-masing baru menjadi nyata karena biaya lingkungan yang berhubung dengannya, termuat di dalamnya.

Tulisan ini sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi para aktivis lingkungan. Tapi kita perlu selalu diingatkan kembali akan tanggung jawab kita terhadap keutuhan lingkungan hidup. Dalam agama Islam dikenal paham bahwa manusia adalah kalifullah. Ia adalah wakil Tuhan di dunia ini. Paham itu dengan baik sekali mengungkapkan peran yang ditugaskan kepada manusia oleh Penciptanya. Ia hendaknya memelihara keutuhan ciptaan sebagaimana seorang trustee memelihara warisan anak yang masih di bawah umur.

By: Herkulanus Lamli

Aktivis Pancur Kasih

Betang Sungai Utik

647 kilometer dari Pontianak, tersebutlah Kampung Sungai Utik. Dayak Iban menenpati 95% penduduk kampung ini. Menurut data Kepala Dusun Sungai Utik jumlah dihuni 244 jiwa dengan komposisi 133 perempuan dan 111 laki-laki pada tahun 2005. Secara greografis wilayah ini, termasuk dalam wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, berada di 00 5’ LU 10 4’ LS dan antara 1110 40’ – 1140 10’ BT.
Dari pemetaan kampung, luas wilayah Kampung Sungai Utik 9.435,50 Hektar, yang terdiri dari 4000 hektar adalah hutan lindung, 2000 hektar adalah hutan cadangan, 1.600 hektar hutan produksi, 1.835,50 hektar adalah wilayah perladangan dan tembawang (kebun buah-buahan).
Sejak 1999, program pemberdayaan sistem hutan kerakyatan mulai bekerja sama dengan masyarakat kampung Sungai Utik. Kegiatan didahului dengan penelitian keragaman hayati (….), mendokumentasikan pengetahuan lokal (masyarakat kampung sunagi utik) dalama mengelola, melindungi dan merehabilitasi sumber daya hutan, bersama masyarakat melakukan potensai sumber daya kayu dan non kayu, melakukan perencanaan pengelolaan kampung dan hutan, serta pengelolaan ekonomi kerakyatan.
Data Inventarisasi Partisipatif potensi sumberdaya hutan, terutama potensi kayu yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Sungai Utik dengan program pemberdayaan sistem hutan kerakyatan, dari wilayah yang inventarisasi seluas 26, 25 haktar terdapat potensi 3.847,77 kubik dari 77 jenis kayu produksi terdiri dari (meranti, kelansau, rasak, tekam dan lain-lain) dan dari non kayu yang didata terdapat 18 jenis rotan. (rotan batu, binka liak, cit, duduk, danan empaka, jeplak, jernang, kijang, lembak, matahari, pelanduk, segak, seruk, singkau, sugi, takung, terung), 9 jenis palem dan 6 jenis akar.
SEMAI (Serakop Masyarakat Dayak Iban) adalah Perkumpulan Masyarakat Dayak Iban, kelompok ini mempunyai paeranan sebagai pengelola sumberdaya kayu Kampung Sungai Utik, dan pada tahun 2003 Program Pemberdayaan Sistem Hutan Kerakyatan bersama dengan masyarakat Sungai Utik mendirikan bengkel mebel. Tujuan pendirian benkel mebel ini, supaya nilai jual kayu lebih tinggi dan pemanfaatan kayu lebih efisien dibandingkan dengan cara pengelolaan yang pernah dilakukan oleh masyarakat Sungai Utik dalam bentuk kayu segi atau balok.
Dengan adanya bengkel mebel ini selain pemamfaatan kayu lebih efesien, juga sebagai tandingan illegal logging yang dilakukan oleh kampung-kampung sebelah yang disokong dananya dari para investor Malaysia.
Bermula dengan pelatihan pembuatan pupuk organik (kompos) dan pelatihan kebun sayur organik yang difasilitasi oleh Program Pemberdayaan Sistem Hutan Karakyatan, ke empat gadis Sungai Utik yang hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, dan dengan bermodalkan pengetahuan otodidak dalam bidang bisnis ke empat gadis Sungai Utik ini mampu mengembangkan usahanya di bidang jual beli sembako, yang hanya bermodalkan Rp 196.000 dari hasil penjualan sayur kebun organik mereka. dan april 2006 asset ke empat gadis ini mencapai Rp 45 juta.
Denga adanya bisnis jual beli sembako ini Masyarakat Sungai Utik sangat terbantu, yang sebelumnya masyarakat sangat kesulitan untuk mendapatkan keperluan sembako. Karena harus mencari di kampung tetangga yang jauhnya ± 2 kilo meter dengan berjalan kaki yang hanya untuk mencari garam, gula , kopi dan keperluan sembako lainnya.
Dengan adanya pemberantasan illegal logging yang dilakukan oleh masa pemerintahan Presiden Susilo Banbang Yudoyono dan Yusuf Kala. Masyarakat Kampung Sungai Utik semakin dikenal masyarakat luas. Ini dibuktikan dengan kunjungan Menteri Kehutanan, karena masyarakat Kampung Sungai Utik telah membuktikan mampu mempertahankan wilayahnya tidak melakukan illegal loging dan tetap melestarikan sumberdaya hutan dengan aturan-aturan adat lokal mereka.

ka.

Tapal Batas Kampung Sungai Utik

Sungai Utik adalah satu dari tujuh kampung di Ketemenggungan Jalai Lintang, Kec. Embaloh Hulu , Kabupaten Kapuas Hulu. kampung ini berpenduduk 244 jiwa (2005), suku Dayak Iban. Mereka tinggal di rumah panjang. sejak tahun 1997 Kampung Sungai Utik dan 6 Kampung lainnya mendapatkan pendampingan dari lembaga-lembaga di Pancur Kasih. Lembaga-lembaga tersebut adalah LBBT (Lembaga Bela Banua Talino), PPSHK (Program Pemberdayaan Sistem Hutan Kerakyatan, PPSDAK (Pemberdayaan Pengelolaan Sumber Daya Alam Kerakyatan), dan PEK (Pegembangan Ekomomi Kerakyatan).

Berdasarkan pemetaan partisipatif tahun 1998, luas kawasan hutan alam (Rimba) Sungai tik tercatat 6.855,89 ha. luasnya hutan ini sagat mengiurkan bagi para investor luar. Beberapa perusahaan HPH (hak pengusahaan hutan) seperti PT Benua Indah, PT Bumi Raya dan PT Lanjak Deras pernah beroprasi di daerah Ketemenggungan Jalai Lintang. di Sungai Utik sendiri keberadaan PT Benua Indah di bagian hulu dan PT “GOLEK” yang beroprasi di bagian hilir mendapatkan penolakan dari masyarakat sehingga akhirnya perusahaan tidak melanjutkan oprasionalnya.

Ketika era repormasi bergulir dan politik ekonomi dijalankan beberapa HPH di cabut izinnya. Dengan beragam alasan seperti kehabisan kayu produksi, ditolak masyarakat dan lain-lain. Namun tak berarti eksploitasi hutan di Kawasan Jalai Lintang telah berakhir, justru tambah parah karena pemerintahaan kapuas hulu atas nama otonomi daerah berlomba-lomba untuk mendapatkan PAD (pendapatan asli daerah) yang bersumber dari hutan. Penebangan kayu pun semakin tidak terkendali, bahkan beberapa cukong kayu dari Malaysia berhasil menenamkan investasinya secara ileggal dan berhasil menjarah kayu besar-besar di wilayah ini. dampak dari kebijakan ini adalah hutan di beberapa kampung dalam wilayah ketemenggungan jalai lintang rusak parah, kecuali Sungai Utik yang tetap teguh mempertahankan wilayah hutannya.

Namun betapapun kuatnya orang-orang Sungai tik mempertahannkan kawasan hutannya bukan tidak mungkin terjadi pelanggaran batas dengan modus penjarahaan/pencurian kayu kembali di wilayah ini. kondisi ini menyimpan komflik antar kampung/Rumah Panjang bahkan di dalam komunitas itu sendiri. Konflik yang yang mungkin terjadi terutama karena nilai uang dari hutan sungguh menarik perhatian. untuk mengatasi konflik yang mungkin terjadi, beberapa langkah terus dilakukan. diantaranya lembaga-lembaga pendamping memfasilitasi masyarakat untuk pertemuan atau diskusi antar kampung, melakukan pemetaan wilayah secara partisipatif dengan melibatkan seluruh kampung yang berbatasan, membuat perencanaan bersama pengelolaan kawasan, pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat, revitalisasi adat istiadat dan hukum adat, melakukan invenstarisasi partisipatif (IP) dan pemasangan tapal batas. Kegiatan-kegiatan yang di lakukan ini merupakan upaya dini pencegahan konflik sumber daya alam (SDA).

Maksud dan Tujuan
Pemasangan Tapal Batas pada kawasan adat Sungai Utik dimaksudkan sebagai upaya dini pencegahan konflik sumberdaya alam. Adapun tujuan pemasangan tapal batas adalah :
1. Memperjelas letak tanda batas wilayah adat Sungai Utik
2.Mengamankan kawasan hutan dari segala bentuk penjarahaan/pencurian kayu dan SDA lainnya.
३.Mengantisipasi konflik SDA antar kampung
4. Pembelajaran bagi generasi muda tentang letak batas wilayahnya
5.Mempermudah akses masyarakat adat Sungai Utik dalam pengelolaan dan pemanfaatan SDA-Nya.